0

SINOPSIS HIDUPKU; Ketika Tanganku Menari Di Atas Kertas Putih

Posted by dunia rere on 8:55 AM in
Awalnya hanya coretan kecil tak ada artinya. Hingga kemudian, tanpa sengaja coretan kecil itu ku rangkai menjadi beberapa coretan yang lama kelamaan aku baru tahu, bahwa coretan kecil itu berubah menjadi sederet puisi. Aku ingat bagaimana aku tersenyum bangga dan puas ketika deretan kata puisi itu ku baca. Aku benar-benar tersenyum di dalam kamar tercintaku yang kini sudah tak ku miliki lagi. Ketika itu usiaku masih 8 tahun dan aku masih duduk di kelas 3 MI/SD. Sebuah puisi yang tulus aku persembahkan untuk wajah yang selalu memberikan senyum di setiap pagiku. Seseorang yang dengan tulus memberikan segenap rasa kasih dan sayangnya padaku. Dalam senyumku, kutuliskan judul sebagai tanda bahwa coretan di kertas itu telah selesai. "IBU", itulah awal judul tarian jemariku. Namun kini, coretan itu lenyap dalam ingatan dan usia waktuku.

Sejak saat itu, Ku mulai keinginan untuk menorehkan beberapa lembar demi lembar, beberapa coretan demi coretan di dalam sebuah kertas putih yang terhampar bersih dan nyaris tak bernoda. Ketika detik berpacu di beberapa uraian angka jam, pada saat itu ku mulai tekadkan niat untuk mulai mengajarkan jari-jariku menari di atas lembar putih. Berharap kelak aku bisa menjadi penulis yang hebat seperti mereka.

Beberapa dekade aku lalui, dan masih dengan tarian tanganku. Namun hidup memang selalu penuh rintangan. Rintangan terbesar dan meyakitkan adalah bagaimana aku bisa melawan kemalasan yang ku rasa adalah monster terbesar dalam tubuhku. Sering ku semangati diri "Don't Lazy, Go Go Go", tapi sekali lagi itu hanya ungkapan kata yang menari-nari di udara. Beberapa novelet (adik kandung novel, yang jumlah page nya di bawah novel dan di atas cerpen) ku coba rangkai, namun semua stag di tengah cerita karena monster itu selalu datang. Yang ku ingat hingga kini usiaku 21 tahun, aku hanya memiliki 5 judul novelet. "Prestasi yang buruk memang", ungkapku dalam hati. judul-judul itu diantaranya, "Karena Dia", "Ratapan Senduku Akhir Bahagiaku", "Sahabat", dan dua lainnya entahlah apa judulnya.

Di beberapa dekade waktu itu, aku pun melewati irama dentum jam hariku dengan puisi-puisi kehidupan yang sering ku sebut "sahabat nyataku". Sebuah puisi harian yang sengaja aku tuliskan sebagai gambaran rasa dan harapku untuk hari itu. Ketika ditanya apa yang paling banyak kau tulis? jawabku adalah ketika aku masih remaja dan bermain dengan dunia cinta. Aku tahu irama cinta memang sangat mudah kita lukiskan dengan kata-kata. Dan aku yakin semua pun akan berkata sama denganku.

Satu Pack buku tulis dan beberapa buku diary, penuh dengan coretan rasa cinta. Belum lagi dengan lembaran-lembaran yang tak bernyawa, yang hilang tertiup dahsyatnya angin. Bagiku, Cinta adalah sebuah perasaan yang menghantui dan memang dirasakan amat dan sangat unik. Ada rasa bahagia, sedih, cemburu, rindu, berdebar, dan masih banyak rasa lagi. Itulah CINTA, yang aku yakin semua orang melalui itu.

Itulah sebagian dari sederet sinopsis kehidupanku. Sangat miris memang, namun harapanku saat ini adalah bagaimana aku bisa mewujudkan mimpi awalku agar aku bisa MENJADI SEPERTI MEREKA.**

|

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Dunia Rere All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.