0
Titipan Rinduku - eps. 01 - Pertemuan
Posted by dunia rere
on
10:53 AM
in
Novelku
Suatu sore, terlihat di sebuah mall X di kawasan Jakarta Selatan terdapat seorang anak perempuan kecil yang menggandeng tangan wanita paruh baya yang cantik.
"Aku mau beli itu dong ma... !!!" rengek refa si gadis kecil berambut pirang. Mamapun menanggapinya dengan lembut, "mau apa sayang?".
Dengan terus merengek refa pun menjawabnya, "yang itu ma, boneka barbie yang pakai baju pink".
"Sayang, kamu kan sudah punya banyak boneka barbie dirumah". tawar sang mama kepada putri kecilnya.
"aah mama, tapi aku mau lagi, aku belum punya yang rambutnya ada pink-pink nya gitu ma, ayolah maa.....", tanpa menyerah refa tetap saja merayu dan memohon pada mamanya.
"ya sudah, nanti mama belikan tapi kalau kamu dapat nilai bagus di UAS ya?" Ulas mama mencoba memberi jawaban menyakinkan kepada puterinya.
Sembari cemberut, refa pun menuruti kata-kata mamanya, "oke deh ma, tapi janji yaa....".
"Oke anakku sayang" ulas mama sembari mengecup refa dengan sayang.
"Aku mau beli itu dong ma... !!!" rengek refa si gadis kecil berambut pirang. Mamapun menanggapinya dengan lembut, "mau apa sayang?".
Dengan terus merengek refa pun menjawabnya, "yang itu ma, boneka barbie yang pakai baju pink".
"Sayang, kamu kan sudah punya banyak boneka barbie dirumah". tawar sang mama kepada putri kecilnya.
"aah mama, tapi aku mau lagi, aku belum punya yang rambutnya ada pink-pink nya gitu ma, ayolah maa.....", tanpa menyerah refa tetap saja merayu dan memohon pada mamanya.
"ya sudah, nanti mama belikan tapi kalau kamu dapat nilai bagus di UAS ya?" Ulas mama mencoba memberi jawaban menyakinkan kepada puterinya.
Sembari cemberut, refa pun menuruti kata-kata mamanya, "oke deh ma, tapi janji yaa....".
"Oke anakku sayang" ulas mama sembari mengecup refa dengan sayang.
Merekapun mulai melangkah pergi meninggalkan toys shop, namun mata refa tak pernah lengah melirik boneka itu.
Mama hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan kecil refa, sembari sedikit demi sedikit melangkahkan kaki menjauh.
-Di sebuah klub-
Musik berdentang dengan begitu mencekik, membuat para pengidap disco tak henti menggoyangkan badan dan tangan. Benar-benar meriah.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh tembakan di ujung pintu keluar pesta.
"dor dor dor" . Semua orang berhenti berpesta ria, dan berhamburan penuh jeritan. Berlari kesana kemari tak tentu arah. Semua terasa mencekam dan tak aman.
Terlihat kawanan pria bertato bintang dan berwajah menyeramkan sedang menembakkan peluru di senapan laras panjang nya. Ya, terlihat mereka seperti kawanan gengster.
"Cepat kau keluar, brengsek! Sebelum aku hancurkan gedung ini! " teriak salah seorang gengster yang kuyakini adalah pimpinannya. Aku tak begitu yakin, mau menggambarkan wajahnya seperti apa. Aku hanya sedang ketakutan di belakang bangku pojok ruangan. Sedangkan pengunjung lainnya pun sama sepertiku, hanya bersembunyi dan tidak berani mengambil langkah.
"kau masih tidak mau keluar? Baiklah saya yang akan memaksamu keluar! " kembali pimpinan gengster itu berteriak.
Aku coba menengok kesana kemari, mencoba mencari sebenarnya siapa yang diharpkan keluar oleh kawanan genster itu. Tapi tampaknya tidak ada yang mendekat ataupun berdiri.
Kudengar suara langkah kaki pimpinan gengster itu mulai mengetuk lantai diskotik. Hatiku berdegup kencang, dan semakin kencang. Suasana benar-benar hening, sehingga derap kaki itu terdengar sangat keras dan semakin mendekatiku.
Aku benar-benar gemetar, tidak berani menatapnya lagi. Kupejamkan mata dan aku tidak tahu harus apa.
Mataku kemudian terbuka perlahan, dan aku lihat pimpinan gengster itu tampak tersenyum didepanku dan menatapku.
Tanpa sadar, aku mengadu tatapan dengannya. Matanya indah, bibirnya juga.
Dalam standar laki-laki, dia kusebut tampan. Tapi, aku tersadar, "dia gengster" ucap dalam hatiku.
Aku benar-benar tidak tahu mengapa dia memghampiriku. Aku tidak pernah berurusan dengan gengster, seingatku.
"kamu cantik", ucap lirihnya. Aku diam saja, kaget dan tidak tahu lagi rasanya. Mulut terkunci rapat, bahkan menimpali senyumnya saja tidak sanggup lagi.
Sesaat, aku bisa bernafas lega. Ia berbalik arah dan menyeret seorang pria berkaos hitam di seberangku. Kawanan genster pun keluar, bersama pria itu tentunya.
Aku masih gemetar, meskipun sudah bernafas lega.
Suasana diskotik pun membeku dan diberhentikan. Semua orang kembali kerumahnya masing-masing. Begitupun aku.
Aku pulang diantar oleh teman kerjaku, Dion. Di dalam mobil, aku hanya terdiam dan tidak menghiraukan apapun yang dikatakan Dion. Sepertinya Dion berkomentar dan bersumpah serapah tentang kejadian tadi.
Sesampai dirumah, aku langsung masuk kamar dan tertidur segera. Aku tidak mau berlama-lama terjaga. Berharap segera melupakan kejadian menegangkan tadi. Iya, kejadian yang membuat pesta sahabatku berantakan.
Oh iya, aku adalah seorang wanita. Berusia 24 tahun tepat bulan depan. Wanita biasa saja dan tidak begitu cantik kok. Tinggi badan hanya 160 cm, dengan berat 55 kg. Punya bola mata hitam dan rambut hitam kecoklatan.
Aku wanita yang hobby menulis, melukis, bernyanyi, dan sebetulnya tidak suka berpesta.
Bekerja di sebuah instansi, sebagai pengajar (agak malu menyebutkan***, karna kerap aku ke diskotik).
Stop bercerita tentang diriku. Sekali lagi wanita biasa saja.
Aku terbangun, entah pukul berapa aku lupa. Aku hanya heran, kenapa pria gengster yang bermata indah muncul dalam mimpiku?
"okey, no problem and forget it! Just dream", kataku mencoba menghibur diri. Mungkin karena terlalu shock dengan kejadian tersebut. Segera ku langkahkan kaki menuju kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu. Setelahnya aku berganti pakaian, karena aku tidur tanpa berganti pakaian sebelumnya.
Ku selipkan kepalaku dalam sujud di atas sajadah biru peninggalan ayahku. Mengabdi dan merebahkan hati pada Sang Pemilik Kehidupan. Mengucapkan untaian do'a atas ketenangan jiwa. Tanpa tersadar, aku tertidur lelap kembali di atas sajadahku dan masih mengenakan mukena. Lelap sekali hingga suara adzan shubuh menyadarkanku. Aku bergegas melepaskan mukenaku dan beranjak berwudhu kembali. Selepasnya, ku jalani kewajibanku sebagai umat muslim dalam ibadah shubuhku.
Seusai shalat, aku bersiap menjalani aktifitas pagiku sebelum bekerja. Iya, aku selalu jogging mengelilingi sekitar rumahku. Di dekat rumah memang ada sebuah taman indah yang sangat menyejukkan.
Aku berlari kecil dengan ditemani alunan musik dari adelle di headphone putih yang terpasang di kedua telingaku. Di tengah iringan nada adelle, aku tersentak kaget.
Ku tengokkan kepala ke samping kananku. Ku terpaku dan terus menatap tanpa mengucap sepatah katapun.
Dia, iya dia. Pria pimpinan gengster semalam sedang berlari di sampingku. Tidak memakai jas hitam seperti malam tadi tentunya, dia memakai celana olahraga dan kaos hitam. Ia tersenyum manis kepadaku dan tetap mengimbangi langkah kakiku. Dia tampan dan manis. Tidak akan percaya memang, kalau dia gengster.
"Hai Kila, kamu cantik", sapanya padaku. Aku masih tidak menjawab tapi terus menatapnya.
"boleh aku mengenalmu lebih dekat? " ia kembali bertanya padaku. Oh, Tuhan, dia sangat manis.
Aku pun langsung menghentikan langkahku. Ku rasa, dia juga ikut berhenti.
"maaf", hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutku di tengah peluh suara ku. Aku tidak yakin, aku hanya tidak tahu menjawab apa.
"tidak perlu dijawab sekarang kok, aku hanya mau mengenalmu, bertemu kamu, dan karena kamu cantik," ucapnya dengan penuh percaya diri, seakan tidka memperdulikan apa yang aku katakan padanya.
Kemudian dia kembali berkata, "nanti aku telepon kamu ya, sampai jumpa Kila". Aku benar-benar tidak faham, apa maksud dia? Kenapa hendak menelponku? Darimana dia tahu nomorku? Siapa dia? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa, kenapa, kenapa? Ada banyak yang aku hendak tanyakan padanya. Tapi belim sempat aku menjawab dan bertanya, dia sudah menghalau pergi, sembari melambaikan tangan dan teranyum manis.
"hei, tunggu..... !! " aku mencoba berteriak memanggilnya kembali, tapi ia tetap pergi. Ku putarkan langkahku kembali menuju rumahku dengan seribu tanda tanya tentunya.
Bersambung.......
Nantikan eps. 2 nya yaa....